Monday, August 31, 2009

Jualan Kaki Lima? Siapa Takut!

Oleh: Hamdi*

Sudah hampir satu dekade berlalu, tetapi kondisi ekonomi belum juga membaik. Pemerintah boleh berbangga dengan kondisi makroekonomi yang dinilai telah membaik, tetapi lain halnya dengan kondisi mikroekonomi. Alih-alih terbebas dari krisis moneter, justru semakin banyak rakyat yang miskin dan kelaparan.

Secara langsung ataupun tidak, himpitan ekonomi memaksa banyak orang untuk lebih ’kreatif’ mencari solusi. Salah satu fenomena mikroekonomi yang berkembang cukup signifikan adalah menjamurnya pedagang kaki lima, pasar kaget atau pasar tumpah. Walaupun harus kucing-kucingan dengan Satpol PP, berebut lahan lapak atau emperan dan persaingan yang ketat dengan sesama pedagang, pokoknya ”Maju Terus Pantang Mundur”.

Memang tidak semua orang berdagang kaki lima dengan motif himpitan ekenomi. Terutama para pedagang di pasar kaget atau pasar tumpah, ternyata banyak juga yang berasal dari kalangan ekonomi mapan yang tergiur oleh keuntungan besar dari berjualan seminggu sekali.

Berjualan di kaki lima, pasar kaget atau pasar tumpah boleh dikatakan gampang-gampang susah. Banyak yang sukses, tetapi tidak sedikit pula yang tersisih dan akhirnya menyerah. Yang pasti, semuanya harus melalui tahap inisiasi memberanikan diri untuk berjualan.

Karta, salah seorang teman korban PHK, pernah ikut saya berjualan di Lapang Brigif Cimahi di hari Ahad pagi. Awalnya Karta takut dan hanya diam melihat saya berteriak-teriak menawarkan barang dagangan. Selang beberapa waktu kemudian, ia mulai berani bersuara meski hanya dengan kata-kata penawaran yang pendek. Setelah hari beranjak siang dan kami bersiap-siap untuk pulang, Karta meminta ijin untuk mencoba berjualan di tempat lain pada hari Ahad berikutnya. Waktu itu saya tidak mengira bahwa tempat lain yang ia maksud adalah Lapang Gasibu Bandung!

Lain halnya dengan Suhe. Motifnya ikut saya berjualan sepertinya lebih cenderung sebatas iseng. Ia mengaku terlalu banyak kekhawatiran yang dirasakan sehingga membuatnya takut untuk mulai berjualan. Di luar dugaan, semua kekhawatiran tersebut hilang di saat pertama kali ikut berjualan. ”Waktu berjualan kemarin saya bertemu dengan teman-teman di pabrik. Ternyata mereka merespon dengan baik dan memuji karena saya berani berjualan di pasar tumpah. Boleh nggak Ahad depan saya bawa sebagian barang dagangan ini ke Soreang?” kata Suhe.

Ketakutan, tampaknya menjadi hambatan utama bagi seseorang untuk mulai berjualan kaki lima. Mungkin sebagian orang merasa malu karena terlanjur menganggap bahwa berjualan kaki lima adalah pekerjaan yang tidak bergengsi. Sebagian lagi mungkin merasa khawatir, jangan-jangan barang dagangannya tidak laku. Ada juga yang enggan untuk menghadapi persaingan berebut lahan berjualan, apalagi jika harus menghadapi praktik-praktik pungli dan premanisme.

Apapun bentuknya, ketakutan tersebut sebetulnya kurang beralasan. Karta dan Suhe, kedua teman saya sudah membuktikannya. Mereka berhasil meruntuhkan benteng ketakutannya di pengalaman pertama ikut berjualan. Kesungguhan dan keinginan yang kuat ternyata mampu mengalahkan semuanya.

Apapun bentuknya, suatu pekerjaan akan lebih mudah dilakukan jika dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Untuk berjualan kaki lima misalnya, coba awali dengan teriakan kata-kata singkat seperti ”obral murah”, ”barang bagus” dan sejenisnya. Sedikit demi sedikit keberanian akan muncul dan rasa ketakutan pun akan hilang dengan sendirinya. Selain itu, pola magang atau pendampingan oleh praktisi yang sudah berpengalaman pun dinilai cukup efektif untuk mempercepat proses pembelajaran tersebut.

Sangat bagus apa yang dikatakan oleh David J. Schwartz, ”Gunakan tindakan untuk menyembuhkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri.” Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mencoba, bukan?

* Penulis adalah pedagang kecil, pemilik toko busana muslim yang setiap Ahad pagi berjualan di pasar tumpah Lapang Brigif Cimahi.